Minggu, 27 Mei 2012

GKPS Mengabadikan Budaya Simalungun Hingga Keperantauan

Dayok Binatur : Sebanyak 12 ASM GKPS Kotabaru Jambi melelang masakan khas Adat Simalungun panggang, “Dayok Binatur” pada pada Pesta Sekolah Minggu GKPS di GKPS kotabaru Jambi, Minggu (27/5). Asenk lee saragih
Tarian Simalungun : Anak Sekolah Minggu GKPS Kotabaru Jambi saat menyuguhkan tarian Simalungun pada Pesta Sekolah Minggu GKPS di GKPS kotabaru Jambi, Minggu (27/5). Foto asenk lee saragih Jambi Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) memiliki komitmen dan tetap konsisten dalam mengabadikan budaya, adat seni Simalungun hingga ke perantauan. Mengenalkan Budaya, Adat serta Seni Simalungun kepada anak usia dini di lingkungan GKPS harus tetap ditingkatkan guna menghindari semakin pudarnya budaya orang tua kepada anak. Mengenalkan Budaya, Adat seni Simalungun kepada anak sejak usia dini, khususnya di lingkungan GKPS, harus tetap dilakukan. Peran GKPS untuk menjaga, serta melestarikan Budaya, Adat, Seni Simalungun harus ditingkatkan, terkhusus buat warga GKPS di perantauan. Hal itu juga yang dilakukan Guru-guru Sekolah Minggu GKPS Kotabaru Jambi, Resort Jambi pada Pesta Sekolah Minggu ke-44, Minggu (27/5) di GKPS Kotabaru Jambi. Tampak 12 orang anak sekolah minggu GKPS mengenakan pakaian adat Simalungun dalam menyemarakkan Pesta Minggu SM GKPS tersebut. Anak yang dilengkapi pakaian adat Simalungun itu, menyambut barisan Prosesi Pdt Jhon Ricky R Purba STh, Porhanger GKPS Kotabaru, St GM Saragih, Ketua SM GKPS Kotabaru Jambi, St E br Sitopu MPd dan Majelis GKPS Kotabaru Jambi. Barisan prosesi diiringi tarian Simalungun dengan lagu rohani Simalungun. Pesta tersebut dihadiri sekitar 300 anak sekolah minggu GKPS Kotabaru Jambi dan sekitar 300 jemaat GKPS Kotabaru Jambi. Anak sekolah minggu yang berpakaian adat Simalungun (wanita) itu juga menyuguhkan tarian Simalungun. Kemudian mereka juga dilibatkan untuk memegang bahan lelang berupa masakah khas adat Simalungun 12 posri panggang “Dayok Binatur” dengan harga lelang masing-masing Rp 400 ribu. Sehari sebelumnya, SM GKPS Kotabaru Jambi melakukan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) yang dipimpin oleh Pdt Jhon Ricky R Purba STh. Hadir pada KKR itu sekitar 100 SM dan 25 orang tua. KKR itu juga diselingi lomba vocal group ASM GKPS antar sector GKPS Kotabaru Jambi. Tampil sebagai juara I yakni ASM Sektor Efesus, Juara II ASM Sektor Korintus dan Juara III ASM Sektor Filipi. Pdt Jhon Ricky R Purba STh dalam kotbahnya mengatakan, agar anak SM GKPS lebih dibekali fasilitas sarana dan prasarana, karena hal itu adalah tanggung jawab gereja untuk masa depan GKPS masa depan. Dirinya juga meminta agar GKPS tetap mengabadikan Adat, Budaya, Seni Simalungun kepada anak sekolah minggu. Hal itu penting agar anak sekolah minggu tidak lupa akan buadaya, adat seni Simalungun. “GKPS berperan penting mengabadikan Budaya, Adat, Seni Simalungun hingga ke tanah perantauan,”katanya. (Asenk Lee Saragih)

MOSES JUNERI DAN EZER TWOPAMA BANGGA JADI SEKOLAH MINGGU GKPS

MOSES JUNERI DAN EZER TWOPAMA BANGGA JADI SEKOLAH MINGGU GKPS

PENTAHBISAN PENDETA DI GKPS KEPADA Pdt Melly S br Purba STh dan Pdt Nurmalayanti br Sirait STh

SELAMAT JELANG PENTAHBISAN PENDETA DI GKPS KEPADA Pdt Melly S br Purba STh dan Pdt Nurmalayanti br Sirait STh di GKPS Jalan Sudirman
Siantar, Minggu 3 Juni 2012. Keduanya Mantan Vikaris di GKPS Resort Jambi Periode 2009-2010 Untuk Pdt Nurmalayanti dan Periode 2010-2012 Untuk Pdt Melly S. Selamat Mangidangima Bani Nasiam. GBU

Senin, 16 April 2012

SELAMAT HARI ULANG TAHUN KE-29 GKPS JAMBI





Foto-foto Asenk Lee Saragih.

SELAMAT HARI ULANG TAHUN KE-29 GKPS JAMBI (1 APRIL 1983- 1 APRIL 2012). SEMOGA SEMAKIN MAMPU MENGEMBAN MISI SEBAGAI GEREJA PEMBAWA BERKAT DAN PEDULI JEMAAT. HARI INI MINGGU 15 APRIL 2012 DIRAYAKAN SECARA SEDERHANA. TAMU KEHORMATAN Pdt Dr E Munthe MTh Beserta Inang (Jakarta). Bapak Pdt Dr Edison Munthe MTh telah melayani di GKPS Jambi sejak Rabu 11 April 2012 malam hingga Minggu 15 April 2012. Pelayanan dalam bentuk Kotbah Ibadah Kebaktian Partonggoan, Pastoral dan Ibadah HUT GKPS Jambi ke 29 (Minggu 15 April 2012).

Dia dalam ibadahnya juga menekankan agar SEKOLAH MINGGU MENDAPAT PERHATIAN PRIORITAS, KHUSUSNYA DALAM PENYEDIAAN SARANA/PRASARANA GEDUNG SEKOLAH MINGGU YANG PEMBANGUNANNYA SUDAH TERTUNDA SELAMA DUA TAHUN LEBIH.


Pdt Dr Edison Munthe MTh juga menyoroti minimnya pesarta pastoral (Majelis dan Jemaat) selama kegiatan itu di laksanakan. Kemudian hubungan Pimpinan Majelis GKPS Jambi dengan Majelis begitu juga dengan jemaatnya kurang harmonis. Hal itu tampak dari kurang antusiasnya warga jemaat yang mengikuti kegiatan Pastoral dan HUT ke 29.

Pdt Dr Edison Munthe MTh juga menilai HUT ke 29 GKPS Jambi tidak memiliki visi, karena kegiatan hanya sederhana mungkin. Gebyar HUT GKPS Jambi ke 29 sangat minim simpatik. Semoga kedepan perayaan HUT memiliki visi yang dapat merangkul seluruh warga jemaat dalam mewujudkan satu tujuan dari hasil pesta tersebut.

Menurut catatan penulis, ada dua kegiatan besar yang gagal dilaksanakan di GKPS Jambi. Pertama TUAN RUMAH RPL PEMUDA GKPS 2012 dan Pembangunan Gedung Sekolah Minggu dan Renovasi Rumah Pendeta. Kegagalan kedua kegiatan ini, merupakan kegagalan Pimpinan GKPS Jambi dan Pimpinan GKPS Resort Jambi. Butuh evaluasi program dan konsilidasi keorganisasian gereja. Semoga Kedepan Lebih Baik Lagi. Horasma.

Senin, 02 April 2012

RPL Seksi Bapa GKPS Dihadiri Ephorus GKPS Dan Bupati Simalungun JR Saragih

Ephorus GKPS Dan Bupati Simalungun JR Saragih tampak santai.

Peserta RPL foto bersama Ephorus GKPS Dan Bupati Simalungun JR Saragih.











Jarinsen Sumbayak bersama Ephorus GKPS Pdt Jaharianson Saragih

Bupati Simalungun JR Saragih.

RPL (Rapat Pengurus Lengkap) Seksi Bapa GKPS dilaksanakan 30 Maret hingga 1 April 2012. RPL dilaksanakan di BAPELKES Propinsi BALI Jl. Gumitir No. 135 Biaung Denpasar Timur, Bali, Denpasar, Indonesia.

Hadir pada RPL itu Ephorus GKPS Pdt Jaharianson Saragih dan Bupati Simalungun JR Saragih.

RPL merupakan rapat yang diatur oleh peraturan di GKPS khususnya untuk seksi Bapa dalam lingkup tingkat pusat atau se GKPS dengan peserta perwakilan dari resort-resort se GKPS.

Peserta RPL Seksi Bapa GKPS Se - Dunia di Bali seusai Bupati KDH Kab. Simalungun menyampaikan ceramah tentang Keadaan Kab. Simalungun sebelum, sekarang dan yang diinginkan ke depan dan apa harapan Bupati kepada Seksi Bapa dan GKPS. Tampak antara lain barisan depan, Ketua Seksi Bapa Pusat, Bapa Eporus dan Bupati Kab. Simalungun. Foto-foto Jarinsen Sumbayak 31 Maret 2012.
(Sumber Foto dari FB JR Saragih)

Selasa, 20 Maret 2012

Museum Simalungun, Riwayatmu Kini

Pematangsiantar, Sauhur
Menteri Kebudayaan dan Industri Kreatif Mari Elka Pangestu saat berkunjung ke Museum Simalungun tanda didampingi Pejabat Pemkab Simalungun Desember 2011. Kunjungan itu diprakarsai Komunitas Jejak Simalungun


Menteri Kebudayaan dan Industri Kreatif Mari Elka Pangestu saat berkunjung ke Museum Simalungun tanda didampingi Pejabat Pemkab Simalungun Desember 2011. Kunjungan itu diprakarsai Komunitas Jejak Simalungun.



Staf honorer Museum Simalungun, Lili br Purba Pakapak


Museum Simalungun adalah bangunan spesifik Simalungun menyimpan berbagai benda-benda dan barang-barang purbakala peninggalan kerajaan-kerajaan di Simalungun. Berbagai koleksi yang ada di Museum Simalungun yang terletak di Pusat Kota Pematangsiantar, kini lusuh dan kusam dan terancam hancur dimakan rayap.

Pada tanggal 5 Januari 2012 lalu, penulis mengunjungi Museum Kebanggaan Simalungun tersebut. Di pintu gerbang Museum itu, penulis dikejutkan dengan kondisi pagar sebelah kiri depan museum roboh akibat selokan tergerus air. Kemudian melangkah ke belakang Museum itu tampak bangunan yang terbengkalai sudah belasan tahun.

Staf honorer Museum Simalungun, Lili br Purba Pakapak memandu penulis untuk melihat dengan kasat mata isi Museum Simalungun. Kurang lebih dari 30 menit, Batakpos mengamati koleksi-koleksi yang ada dalam museum, baik di lantai dasar dan lantai satu.

Isi dari Museum Simalungun itu diantaranya peralatan rumah tangga seperti : Parborason (tempat menyimpan beras), Pingga Pasu (piring nasi untuk raja), Tatabu (tempat menyimpan air), abal-abal (tempat menyimpan garam).

Peralatan pertanian seperti : wewean (alat memintal tali), hudali (cangkul), tajak (alat membajak tanah), agadi (alat menyadap nira), peralatan perinakan seperti bubu (penangkap ikan dari bamboo), taduhan (tempat menyimpan ikan), hirang-hirang (jaringan penampung ikan), hail (kail).

Tidak hanya disitu, penulis juga melihat kasat mata alat-alat kesenian seperti Ogung, Mong-mong, Heseh, Gondrang, Sarunei, Sordam, Arbab, Husapi dan alat-alat perhiasan seperti Suhul Gading (keris), raut (pisau kecil), Gotong (kopiah laki-laki), bajut (tas wanita), Bulang (tudung wanita), Suri-suri (selendang wanita), Gondit (ikat pinggang wanita), Doramani (perhiasan kepala pria).

Secara kasat mata, koleksi-koleksi Museum Simalungun tersebut kurang terawat dengan baik. Ragam koleksi hanya diletakkan pada dalam lemari biasa yang bisa dihinggapi serangga dan debu.

Banyak peninggalan sejarah itu dibiarkan lapuk dan using tanpa adaya upaya pengawetan dan perawatan yang maksimal. Sepertinya Pemerintah Kabupaten Simalungun kurang peduli dengan keberadaan Museum Simalungun tersebut. Perawatan dan pemeliharaan hanya dilimpahkan kepada Yayasan Museum Simalungun yang diketuai Drs Djomen Purba Pakapak.

Pandangan juga tertuju kepada rangka bangunan yang terbengkalai di belakang museum tersebut. Bangunan yang diperuntukkan gedung pertunjukan Adat, Budaya, Seni Simalungun serta ruang serga guna itu sudah terbengkalai pembangunannya selama 20 tahun.

Guna melanjutkan pembangunan yang terbengkalai itu, Yayasan Museum Simalungun telah membuat proposal pembangunan dengan anggaran Rp 1.185.000.000. Proposal itu ditanda tangani oleh Ketua Djomen Purba dan Sekretaris Tuahman Saragih. Namun hingga kini hasil dari proposal itu belum diketahui pasti.

Menurut Staf honorer Museum Simalungun, Lili br Purba Pakapak, keberadaan Museum Simalungun memang memprihatinkan. Selain biaya operasional dan perawatan minim, kunjungan ke Museum Simalungun dari 2005 hingga 2011 sangat minim.

Dari data yang terpajang di papan di Ruang Staf Museum Simalungun, jumlah kunjungan dari tahun 2005 hingga 2010 hanya 156 orang setiap bulannya. Jumlah tersebut jauh lebih rendah dibandingkan dengan jumlah kunjungan pada tahun 1972 hingga 2001 yang mencapai 4600 orang setiap bulannya.

Menurut Lili, tiga pegawai staf Museum Simalungun hanya diupah Rp 500.000 per bulan. Mereka meminta Pemkab Simalungun mengalokasikan anggaran untuk staf Museum Simalungun sesuai dengan standar.

“Kita hanya diupah minim. Hanya dengan isme kita terhadap Simalungun, hingga kini kami bertahan menjadi staf Museum Simalungun ini. Kita berharap ada perhatian Bupati Simalungun,”kata Lili br Purba didampingi Trieselda br Purba Tua, staf lainnya. Asenk lee saragih

Foto-foto Pendukung di Museum Simalungun.














FOTO-FOTO ASENK LEE SARAGIH. 0812 7477587

Ajis Napitu, Pedagang Sayur Kreatif Yang Tidak Menyerah Dengan Usia

Cerita Dari Desa

Sipoldas, Sauhur


Ramah : Ajis Napitu (baju hijau topi hitam) saat melayani pelanggan dengan ramah saat singgah di Desa Sipoldas, Kecamatan Panei Tongah, Kabupaten Simalungun, Jumat 6 Januari 2012 pagi. Foto-foto sauhur/ asenk lee saragih


Pagi itu, Jumat 6 Januari 2012, Desa Sipoldas, Kecamatan Panei Tongah, Kabupaten Simalungun tampak cerah dengan udara pagi yang segar. Ditengah warga menikmati suasana pagi dengan udara segar, melintas sebuah Mobil Suzuki Carry warga merah hati dengan palat nomor BK 510 LW. Disaat mobil tersebut melintas, kerap mengeluarkan lagu-lagu Batak dari sebuah speaker toa yang dibuat di atas mobil bagian depan.

Disaat lagu-lagu Batak terdengar nyaring, sejumlah warga menyetop mobil tersebut dan mengerumuninya. Ternyata mobil yang melintas setiap pagi itu adalah penjual kebutuhan makanan (sayuran, ikan, tahu, tempe dan jenis bumbu-bumbu rempah) milik Ajis Napitu (62) warga Desa Tigaras, Kabupaten Simalungun.

Pria yang kerap mengenakan topi kupluk ini tergolong manusia kreatif walau usia tak lagi muda. Dirinya tidak kehabisan akal guna melakoni usaha yang dapat mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. Dengan bermodalkan sebuah mobil yang tergolong tua, suami dari br Simanjuntak ini menggeluti pedagang sayuran keliling bermobil.

“Ini sudah saya geluti selama lima tahun. Saya belanja sayuran, ikan segar, tempe, tahu bubum-bumbu rempah dan kebutuhan masak lainnya di Pajak Horas Siantar setiap pagi. Kemudian dari Simpang Dua Siantar mulai menjajakan dagangan di sepanjang jalan yang dilintasi. Disetiap permukiman penduduk selalu singgah. Di Sipoldas ini sudah punya langganan, jadi selalu berhenti di Sipoldas ini,”ujar ayah dari 9 anak dan 8 cucu ini saat bincang-bincang dengan penulis Sipoldas 6 Januari 2012 lalu.

Ajis Napitu tergolong manusia yang tangguh. Betapa tidak memasuki usia yang ke 62 tahun, dirinya masih segar bugar mengemudikan mobil dagangannya setiap hari. Dirinya sudah harus berangkat pada pukul 04.00 WIB dari Tigaras ke Siantar untuk belanja barang dagangan. Hal itu dilakoninya setiap hari.

“Anak saya 7 orang di Siantar dan dua orang tinggal bersama kami di Tigaras. Belanja di Siantar saya dibantu anak saya. Kemudian barang dagangan di jual sepanjang jalan dari Simpang Dua Siantar hingga berakhir di Tigaras,”ujarnya.

Ajis Napitu mengaku senang dengan profesi yang dia geluti. Dari hasil usaha jualan sayuran kenderaan keliling, dirinya bisa mengantongi untung bersih setiap harinya Rp 30.000. Baginya untung Rp 30 ribu, sudah lebih dari cukup untuk kebutuhan rumah tangganya.

Mobil Suzuki Carry warga merah hati dengan palat nomor BK 510 LW

“Untung segitu sudah bersih. Modal belanja, biaya beli bensin mobil, makan dan rokok sudah dapat, Rp 30.000 itu bersih disetor kepada istri. Usaha dagangan sayuran keliling ini cukup menjanjikan. Karena setiap desa yang dilewati, setidaknya lebih dari 12 desa, mempunyai langganan. Kadang ada juga pelanggan yang pesan apa yang dibeli esok harinya,”katanya.

Menurut Ajis Napitu, profesi yang digelutinya muncul dari idenya sendiri saat melihat mobilnya yang kerap parker di rumah karena tidak ada kegiatan selain bertani di Tigaras. Kemudian dorongan dari anak-anaknya membuat idenya itu jadi kenyataan.

“Sekarang ini harus kreatif, jangan lagi menunggu lowongan kerja. Sekarang harus buat lapangan pekerjaan sendiri, seperti yang saya lakukan ini. Untung tidak begitu besar, tapi cukup untuk melepas biaya kebutuhan hidup keluarga sehari-hari. Walau sudah usia tak lagi muda, saya tetap tegar dan bersemangat menjalankan profesi ini demi pelanggan saya yang setia menunggu saya setiap paginnya,”katanya.

Usaha yang dilakukan kakek dari 8 cucu ini, memang tergolong langka, khususnya di Kabupaten Simalungun. Namun karena sulitnya mencari nafkah, muncul ide kreatif seperti yang dilakoni Ajis Napitu. Semoga muncul-Ajis-Ajis muda di Kabupaten Simalungun pada khususnya dan Sumatera Utara pada umumnya, yang memiliki ide kreatifitas dalam membuka lapangan pekerjaan sendiri.

Usai melayani pelanggannya di Desa Sipoldas, Ajis Napitu, Jumat 6 Januari 2012 lalu, dirinya kembali mengeraskan lagu-lagu Batak dari speaker toa mobilnya sembari menuju pelanggan lainnya di lintasan Desa Sipoldas-Tigaras. Semoga usaha Ajis Napitu semakin maju. (asenk lee saragih).TULISAN INI TELAH DIMUAT DI MAJALAH SAUHUR SIMALUNGUN EDISI 23 MARET-APRIL 2012 DI HALAMAN 23.